Posted by: bachnas | 11th Mar, 2009

Pesawat Tergelincir

Terjadi lagi pesawat menggelincir dan tergelincir. Barusan saja pada tanggal 23 Februari 2009 pesawat Lion Air dilandasan Bandara Hang Nadim Batam, dan barusan ini tanggal 9 Maret 2009 juga kebetulan pesawat Lion Air mengalami kecelakaan. Menurut berita media, kecelakaan yang terjadi pada kedua pesawat ini penyebabnya berbeda, yang jelas adalah sama-sama dalam kondisi mendarat, yang di Batam mengelincir dan yang di Banten tergelincir.

Apa penyebab kecelakaan pesawat udara?

Ada 3 kondisi kemungkinan terjadinya kecelakaan pesawat udara, pertama pada saat tinggal landas (take off), kedua pada saat berada di angkasa, dan yang ketiga pada saat mendarat (landing). Kecelakaan pesawat pada posisi pertama dan kedua sangat jarang Pilot dapat menyelamatkan pesawatnya, tapi untuk kondisi pesawat yang akan mendarat banyak yang dapat terselamatkan.

Dalam hal ini akan saya coba mentelaah kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada kasus kecelakaan pesawat seperti yang dialami oleh Lion Air pada saat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Antara lain:

1. Pengaruh cuaca. Pada saat mendarat menurut berita, kecelakaan terjadi pada kondisi hujan lebat. Pengaruh cuaca ini ada 2 kemungkinan yang terjadi, pertama adalah genangan air pada runway, dan kedua adalah akibat tiupan angin kencang. Jika runway tergenang air, maka daya gesek (skid resistance) antara roda dengan permukaan perkerasan runway akan berkurang, air dapat menjadi bidang gelincir bagi benda dengan kecepatan tinggi yang berselancar diatasnya. Kita mungkin pernah melempar batu pipih diatas sungai atau empang, batu itu akan melesat/melompat-lompat beberapa kali di atas air dan kemudian baru tenggelam pada saat kecepatannya sudah berkurang. Tentang angin, angin juga sangat berperan untuk dapat mendorong pesawat ke arah luar landasan. Dengan luasan badan pesawat yang besar akan dapat menerima tiupan angin yang besar pula.

2. Pengaruh dari kondisi roda dan permukaan runway. Air memang mengurangi kemampuan permukaan perkerasan landasan untuk memberikan tahanan gelincir pada roda pesawat. Hal ini akan menjadi sangat berkurang tahanan gelincir permukaan landasan tersebut jika permukaan landasan sudah aus, nilai kekesatannya sudah berkurang. Juga ada dua macam pola kelicinan permukaan jalan/runway, yaitu permukaan aus akibat gesekan (polishing) dan permukaan licin akibat kegemukan aspal (bleeding). Berikutnya yang akan memperbesar terjadinya tergelincirnya pesawat adalah akibat roda pesawat sudah licin. Jika roda sudah licin tentu daya cengkram roda sudah berkurang apalagi dalam kondisi basah. Oleh karena itu roda mobil, roda sepeda motor, maupun roda pesawat kalau sudah licin sebaiknya cepat-cepat diganti. Kecuali kalau memang ingin berselancar diatas jalan basah.

3. Pengaruh kealpaan Pilot (human Error). Sisi lain yang dapat menimpulkan kecelakaan pesawat adalah karena kekurang gesitan sang Pilot. Pada saat mendarat dalam cuaca yang tidak baik, tentu sangat memerlukan suatu pengalaman tersendiri oleh Pilot. Pertama adalah pengaturan kecepatan pada saat mendarat, kedua adalah posisi lending pada runway, dan ketiga adalah kiat pengereman pada saat/kondisi landasan basah. Biasanya kecepatan pesawat pada saat mendarat adalah berkisar sebesar 250 km/jam, karena kalau kurang cepat, pesawat akan terhempas jatuh, dan kalau terlalu cepat akan menggelincir jauh kedepan, dikhawatirkan akan melewati panjangnya runway. Mengenai posisi lending diatas landasan, Pilot yang berpengalaman sudah mengetahui karakter suatu landasan, panjangnya dan kondisi permukaan runway, sehingga akan menempatkan sentuhan pertama sedapat mungkin pada areal mendekati ujung landasan, agar keamanan dalam pengereman dan penempatan pesawat untuk masuk taxiway bisa lebih pas, tidak kebablasan, apalagi bablas sampai runway yang paling ujung didepan pesawat, seperti yang terjadi di Badara Adi Sumarmo Solo. Pilot yang berpengalaman akan punya kiat cara pengereman dilandasan saat kering maupun pada saat basah. Pengereman yang sangat kencang/kuat dalam kondisi permukaan landasan basah akan mengakibatkan pesawat tergelincir/membanting kekiri/kekanan, dan bahkan bisa mengakibatkan pesawat terbalik.

Demikian tinjaun terhadap kecelakaan pesawat udara pada saat mendarat dalam kondisi hujan. Semoga tinjauan ini bermanfaat sebagai tambahan ilmu bagian dari transportasi udara.

Responses

kalau saya boleh menambah kan pak. kemungkinan yang ke-4 adalah:
kurangnya komunikasi antara pilot dan menara kontrol yang ada di setiap bandara. biasanya kan menara kontrol lebih mengetahuii situasi landasan, basah kah, situasi angin kencangkah, dsb. jikalau menara kontrol sudah menyatakan "aman mendarat" jadi sang pilot pun aman untuk mendarat. lain cerita kalau sang pilot tak mengindahkan informasi yang didapat dari menara kontrol, jadi nyelip dah.

tapi pak, saya liat di berita, KNKT bilang kalau pesawat lion air yang di banten bukan menggelincir ataupun tergelicir, tapi terhempas. saat ini tengah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, dan keputusan sementara yang di ambil oleh KNKT adalah melarang terbang pesawat yang sejenis untuk saat ini.

terimakasih.

Informasinya very wondefull, mau nimbrung kemungkinan juga karena faktor pesawat yang sudah tuwir, informasi terakhir pesawat jenis diatas sudah dilarang terbang oleh KNKT & DEPHUB.

iya. sudah kejading kejadian dulu Baru dikeluarkan larangan terbang.. emank Indonesia ku maLang..

Leave a response

Your response:

*

Categories

Meta

Archives