Posted by: bachnas | 27th Sep, 2008

Transpor Mudik

Transpor Mudik

Hari-hari ini kita mulai melihat kembali ‘ritual tahunan’ bernama mudik. Mudik memang sudah membudaya dikalangan masyarakat kita, masyarakat tingkat atas sampai pada golongan bawah. Dan diantara pernak-pernik itulah kemudian ujung-ujungnya pada sebuah petanyaan: ‘mau pulang pakai apa? Apa pilihan transpor yang cocok?

Dalam pemilihan alat angkut ini memang berujung juga pada biaya tapi, ingat untuk bertransportasi kita tidak hanya terpaku pada biaya saja tapi, harus mempertimbangkan tiga aspek yang pokok yaitu aman, nyaman dan ekonomis. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan, walaupun ketiga aspek tersebut sesungguhnya juga merupakan sesuatu yang relative, tidak ada yang mutlak, tetapi kita bisa meletakkan dalam suatu skala prioritas. Aman merupakan skala prioritas yang utama yang tidak bisa ditawar-tawar. Apa saja pilihan kita untuk pulang kampung, untuk bertransportasi kita harus memertimbangkan yang aman, mau naik pesawat harus pilih pesawat yang aman, mau naik kapal pilih yang aman, naik kereta api, naik bus, pokoknya naik apa saja harus aman.

Akhir-akhir ini sebagian masyarakat kita menggunakan alat transpor yang dimilikinya untuk digunakan sebagai alat mudik. Kita dapat melihat ada yang mudik dengan mobil tua, ada juga yang pakai kendaraan roda tiga seperti bemo atau bajai, bahkan sekarang ini roda dua alias motor inilah yang merajai mudik. Pertimbagannya apa? praktis dan murah, walaupun kemurahan dan kepraktisan ini baru pada batasan perkiraan, belum masuk dihitung secara seksama oleh masing-masing orang yang akan mudik tersebut.

Sebagai contoh, jika pilihannya sepeda motor, biaya yang aharus dikeluarkan untuk setiap kilometernya adalah sebesar kurang lebih Rp.225, termasuk keausan ban, ganti oli, bahan bakar dan biaya service. Jarak perjalanan Yogya-Jakarta sekitar 500 sampai 600 km karena jalannya tidak lurus saja. Total biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp.135 ribu. Jika motor tersebut ditumpangi oleh dua orang maka masing-masing terkena beban sbesar Rp.67,5 ribu. Jika naik bus kelas ekonomi adalah sekitar Rp.60 ribu, dan jika naik kereta api kelas ekonomi adalah sebesar Rp.38 ribu. Nah dari biaya sudah Nampak dengan kendaraan umum lebih murah, tentu jangan bandingkan dengan kelas eksekutive.

Naik sepeda motor sangat beresiko tinggi, sepeda motor bukan alat transportasi jarak jauh, naik motor selama satu jam sekitar 40 km sudah mulai pegal seluruh badan, karena pengendara motor duduk dengan kaku tanpa ada kesempatan bersandar, lepas tangan, harus kosentrasi memegang stang kemudi. Inilah yang disebut tidak nyaman, baru untuk berjalan satu jam, bagaimana untuk perjalanan 10 jam atau 12 jam? Hampir semua pemudik yang pulang pakai motor sesampai dirumah akan cari tukang pijat dan ada yang tidur sampai sehari penuh untuk memulihkan kembali kesegaran badan.

Sekarang kita lihat dari segi keaman, apapun alasan kita, pada kenyataannya kendaraan roda dua lebih tidak aman dari kendaraan roda empat. Kendaraan roda dua tidak setabil jika dibandingkan dengan kendaraan roda empat. Untuk itulah ada peraturan bahwa kendaraan roda dua hanya untuk dua orang penumpang, dan tidak boleh untuk membawa barang bawaan yang berat. Pada kenyataannya satu motor ada yang dimuati oleh 4 orang dan juga bawa barang, dan penempatan barang tidak imbang sehingga kendaraan menjadi lebih tidak setabil. Pada saat berkendaraan sering sekali berdekatan atau bergerombol, hal ini sangat berbahaya, karena tersenggol sedikit saja motor bisa oleng yang mengakibatkan mudah menjadi celaka, karena memang sepeda motor adalah kendaraan yang tidak setabil. Apa lagi jika sudah terakumulasi atau tertumpuk dari rasa capek, letih, perasaan tidak nyaman yang menumpuk inilah yang mengakibatkan sifat dari berkendaraan berroda dua akan semakin tidak aman.

Oleh karena itu, saya menghimbau pertimbangkanlah matang-matang penggunaan sepeda motor untuk jarak jauh atau mudik, jangan terpaku dari praktis, murahnya saja, tapi sayangilah nyawa, anak-anak yang dibawa, kesehatan pribadi dan keluarga. Angkutan umum lebih aman, nyaman dan juga murah, untuk keperaktisan memang agak kurang. Juga untuk operator atau pengusaha bus, angkutan pesawat udara, juga dalam hal ini untuk PT.KAI jangan punya pikiran aji mumpung, karena orang banyak yang butuh maka harga tiket di naikin. Padahal dengan bertambahnya jumlah trayek, bertambahnya penumpang, maka Load Faktor juga sudah naik yaitu keuntungan sudah tercapai, kenapa harus mengeruk keuntungan berlipat ganda dari orang lemah yang sedang membutuhkan? Inilah sesungguhnya uji nasionalisme. Lihatlah apa yang dilakukan oleh PT.KAI untuk tidak menaikkan harga tiket kelas ekonomi bagi pemakai jasa angkutan kereta api, ini merupakan suatu kepedulian pada masyarakat tingkat menengah kebawah. Sekalipun-mungkin untuk subsidi silang – untuk kelas eksekutif dinaikkan hamper dua kali lipat.

Dalam menangani bidang transportasi, pemerintah perlu pula memperhatikan kebutuhan masyarakat yang nota bene masih berpenghasilan rendah. Tegakkan aturan-aturan, kedisiplinan berlalulintas, tingkatkan sarana dan prasarana lalulintas, tingkatkan layanan berlalulintas, tingkatkan layanan untuk kelas ekonomi, buat kebijakan atau aturan bagi operator atau pengusaha untuk tidak boleh menaikkan harga tiket untuk kelas apa saja. Pada hari-hari besar saat musim mudik inilah yang paling signifikan dirasakan oleh rakyat, agar pemerintah perlu memberikan subsidi untuk angkutan transportasi, yang lansung dirasakan oleh rakyat. (Tulisan ini dimuat di Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, tanggal 25 September 2008).

Leave a response

Your response:

*

Categories

Meta

Archives